Sabtu, 07 Agustus 2010

Berpuasa Menurut Hindu

Om Swastiastu,
PUASA
  1. Puasa (Upawasa) yang wajib (diharuskan) adalah:
    1. Siwaratri (lihat kalender) jatuh pada panglong ping 14 Tilem ke pitu, yaitu sehari sebelum tilem. Untuk y.a.d. jatuh pada Hari Rabu, tanggal 21 Januari 2004. Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai sejak matahari terbit pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2004 sampai dengan matahari terbenam tanggal 22 Januari 2004.
    2. Nyepi, jatuh pada penanggal ping pisan sasih kedasa (lihat kalender ketika libur nasional). Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya (ngembak gni).
    3. Purnama dan tilem, puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak fajar hari itu hingga fajar keesokan harinya.
    4. Puasa untuk menebus dosa dinamakan dalam Veda Smrti untuk Kaliyuga: Parasara Dharmasastra, sebagai "Tapta krcchra vratam" adalah puasa selama tiga hari dengan tingkatan puasa:
      1. minum air hangat saja,
      2. susu hangat saja,
      3. mentega murni saja,
      4. tanpa makan dan minum sama sekali.
      Pilihan ditentukan oleh jenis dosa yang dilakukan: membunuh binatang, membunuh/ mencederai sapi, hubungan kelamin terlarang (zina), makan makanan terlarang, membunuh manusia, dll.
  2. Puasa yang tidak wajib adalah puasa yang dilaksanakan di luar ketentuan di atas, misalnya pada hari-hari suci: odalan, anggara kasih, dan buda kliwon. Puasa ini diserahkan pada kebijakan masing-masing, apakah mau siang hari saja atau satu hari penuh. Ingat bahwa pergantian hari menurut Hindu adalah sejak fajar sampai fajar besoknya; bukan jam 00 atau jam 12 tengah malam.
  3. Puasa berkaitan dengan upacara tertentu, misalnya setelah mawinten atau mediksa, puasa selama tiga hari hanya dengan makan nasi kepel dan air kelungah nyuhgading.
  4. Puasa berkaitan dengan hal-hal tertentu: sedang bersamadhi, meditasi, sedang memohon petunjuk kepada Hyang Widhi, setiap saat (tidak berhubungan dengan hari rerainan) dan jenis puasa tentukan sendiri apakah total (tidak makan dan minum sama sekali) selama 1 hari 1 malam atau seberapa mampunya. Memulai puasa dengan upacara sederhana yaitu menghaturkan canangsari kalau bisa dengan banten pejati memohon pesaksi serta kekuatan dari Hyang Widhi. Mengakhiri puasa dengan sembahyang juga banten yang sama. Makanan sehat yang digunakan sebelum dan setelah puasa terdiri dari unsur-unsur: beras (nasi) dengan sayur tanpa bumbu keras, buah-buahan, susu, madu dan mentega.
Makanan yang dianjurkan dan dilarang bagi umat Hindu ada dalam Manawa Dharmasastra buku ke V. Silahkan lihat dan pelajari, usahakan menepati apa yang ditulis di sana. Wanita yang sedang haid ada dalam keadaan cuntaka, jadi tidak boleh berpuasa. Tidak ada perbedaan puasa antara laki dan perempuan.
Om Santi, Santi, Santi, Om....

1 komentar:

  1. Puasa merupakan nama bulan keenam dalam Hindu, yaitu POSYA, atau PAUSA. Di jawa disebut bulan Poso, atau di beberapa desa di Bali seperti di Madenan (buleleng) dan Sukawana (Kintamani-Bangli) dll disebut POSE.

    Adapun nama-nama bulan dalam kalender Hindu adalah : Srawana, Badrapada, Aswina, Kartika, Margasirsa, Posya/Pausa/Poso/Pose, Magha, Palguna, Chaitra, Waisaka, Jiestha, Asadha.

    Sedangkan umat Muslim menyebut bulan tersebut sebagai bulan RAMADHAN. Di saat bulan Ramadhan umat muslim melakukan SAUM (tidak makan dan tidak Minum di siang hari selama bulan Ramadhan).

    Pada Awal-awal Islam di tanah Jawa, Rakyat Jawa 2 kali melaksanakan puasa yaitu tidak makan dan minum di bulan PUASA (HINDU) dan Saum/tidak makan-minum di Bulan Ramadhan. Sehingga oleh Sultan Agung, Raja Mataram, dibuatlah kalender Baru yaitu kalender Saka Jawa dimana bulan PUASA/POSO nya di letakkan tepat pada Bulan Ramadhannya Islam. Jadilah Bulan Ramadhan sebagai Bulan Puasa.

    Hal ini mengingatkan juga pada waktu saya masih duduk di Sekolah Dasar. Yang disebut Kesaman/mengambil rapot/kenaikan kelas, waktu itu (th 1970-an) adalah bulan Desember. Oleh Daud Yusuf menteri PDK, kemudian di Robah kesaman itu menjadi bulan Juni.

    Cuma yang menjadi pertanyaan, Kenapa umat Hindu yang mengenal bulan Posya/pausa/pose, tidak melaksanakannya sebulan penuh. Hanya beberapa desa adat di Bali yang melaksanakannya itupun hanya para prajuru adat saja yang diwajibkannya, sedang Warganya hanya tidak diperbolehkan keluar desa pada waktu Bulan Pose tersebut, seperti yang terjadi di Desa Madenan dan Sukawana, mungkin di desa lain ada yang melaksanakannya, mohon informasinya.....

    BalasHapus